wisata

Kisah Wisatawan yang Terjebak di Karimun

Dihadang cuaca buruk di libur Lebaran selanjutnya, ratusan pelancong urung menyeberang menuju Pulau Jawa dari Karimun Jawa. Tak berada kapal penyeberangan dengan segala wisatawan terjebak dalam Karimun Jawa sampai 10 hari. Beberapa pengunjung menceritakan kisahnya saat terjebak pada Karimun Jawa.

Para wisatawan yang terjebak pada Pulau Karimun Jawa terdiri dari pengunjung lokal dan dunia. Semua wisatawan lokal berasal dari Jakarta, Surabaya, Blitar, Yogyakarta, serta Solo. Sementara semua pelancong mancanegara asal dari Perancis, Spanyol, Jerman, dan negara-negara kalangan Eropa lain.

“Kami terdampar 6 hari pada Karimun Jawa. Yah cukup begitu juga menjadi ngeluarin harga demi homestay. Ya lebih kurang satu,5 juta, Mas. Menjadi ada harga bertambahnya deh,” ucap Santi Nainggolan saat ditemui KompasTravel di melawan KM Binaiya punya PT Pelni beberapa hari lalu.

Dari bersama keluarga berjumlah 10 orang, Santi memanfaatkan biro perjalanan lokal dalam Jepara untuk berlibur menuju Karimun Jawa. Ia mengeluhkan tentang bantuan dari pihak pemerintah demi seluruh wisatawan yang terjebak.

“Harusnya ada bantuan dari pemerintah mirip kapal demi evakuasi. Apabila gak ada kapal berhari-hari itu kan gak wajar,” tambah Santi.

Kisah lain muncul dari seorang pasangan dari Barcelona, Spanyol, Anna dan Eduard. Ia asal ke Indonesia untuk liburan musim keras juga satu diantaranya destinasi liburan yang dikunjungi yaitu Karimun Jawa. Mereka terjebak sepanjang sepuluh hari pada Karimun Jawa karena bukan ada kapal penyeberangan.

“Sebenarnya berada pilihan lain demi berhasil pindah dari Karimun Jawa. Pesawat terbang namun hanya sedikit juga sudah penuh. Harganya amat mahal. Jatah tiket dijual demi harga tertinggi,” ujar Eduard.

Anna menjelaskan seluruh pengunjung yang terjebak diharuskan tetap berhemat di menikmati uang jikalau bukan merebut uang tunai. Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di sana, lanjut Anna, sudah tak ada cadangan uang demi bisa disabet. Beruntung, Anna dan Eduard mempunyai cadangan uang tunai yang masih bisa dipakai.

Advertisements

Pura Batu Bolong Lombok

Seandainya dalam Pura Gunung Pengsong Kamu menikmati sensasi beribadah dalam puncak ketinggian, nah seumpama pada Pura batu Bolong itu Kamu akan mendiskusikan indahnya berdoa di bibir pantai Senggigi Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Dimaksud batu bolong karena pura tersebut terletak pada menghadapi batu hitam yang memperoleh lubang di tengah.

Keindahan Pura Batu Bolong konon yang membawa kesan tersendiri kepada umat Hindu yang bersembahyang. Bagaimana tidak, Kita bakal ditemani oleh deburan ombak yang menabrak karang Pura Batu Bolong dan menyesap perlahan melewati ronngga-rongga. Di bawah naungan pohon serta hamparan langit biru Pantai Senggigi inilah Pura Batu Bolong seakan merebut umatnya larut di keindahan alam ciptaan yang Maha Kuasa. Keindahan Pura Batu Bolong setap saat disejajarkan juga Pura Tanah Lot Bali yang tempatnya menjorok dari garis pantai. Suasana spritual Pura Batu Bolong ini ditambah lagi dengan letak Pura yang dijumpai juga Selat Lombok dan Gunung Agung Bali, gunung yang disucikan tapi umat Hindu. Untuk kesaksian seluruh kalangan yang beribadah dalam pura ini, walaupun suara ombak dari silih berganti namun keheningan bercampur dan spirit religius tetap menggema.

Pura batu Bolong terdiri dari 2 bangunan pura. Yang awal ialah pura yang letaknya pada bawah pohon juga ada pada dekat jendela masuk seusai menuruni bermacam anak tangga bernama Pura Ratu Gede Mas Mecaling. Sementara pura kedua ada di bertemu karang yang tingginya selingkungan empat meter ada dalam posisi yang menjorok. Beberapa patung yang terdapat dalam pura itu ialah patung Subali, Sugriwa, Rama, Laksmana juga patung Naga.

Keberadaan Pura batu Bolong ini secara langsung memperoleh makna kebiasaan yang bersentuhan dan kehidupan masyarakat Hindu di Pulau Lombok yang diwariskan tetapi budaya Bali. Kendatipun berada kedekatan melalui historis-geografis, namun masyarakat Hindu setempat selalu melekatkan makna hukum adat didalamnya. Kemiripan makna adat istiadat dan yang berada pada Bali terlihat dari jenis-jenis pelinggih yang di bangun di pura ini dan menjadi tempat wisata Lombok yang terkenal. Uniknya, ketika lebaran tiba, umat muslim di Lombok akan dari bergerombol ke pantai di depan pura. Merekapun bersama-sama memakai opor ayam, ketupat, ayam taliwang dengan serundeng. Inilah bukti nyata kerukunan antara umat Islam serta Hindu yang memperlihatkan jika mereka sukses hidup berdampingan mengakses harmonis. Keharmonisan yang sebanding akan kamu tunggu seumpama mengunjungi Pura Lingsar di Kecamatan Narmada Pulau Lombok Barat.

Semacam halnya pura-pura yang berada pada Pulau Lombok, setiap pengunjung harus untuk mentaati beberapa aturan yakni diharuskan memanfaatkan selendang kuning yang dililitkan dalam pinggang dan kepada wanita yang sedang asal bulan dilarang demi dari ke pura tersebut. Jangan lupa demi sukarela mendonasikan uang merupakan dana kebersihan dan perawatan pura tersebut.

Pura Batu Bolong tak cuma dikunjungi mereka yang bakal beribadah, tetapi begitu juga semua penggila fotografi. Maklum pura itu selalu indah dikunjungi pada ketika sunset. Saat matahari melebur serta alam, laut yang disepuh warna matahari keemasan siapkan kamera Kamu untuk mengabadikan ketika berharga itu. Ketika malam tiba, bintang-bintang memayungi Pura Batu Bolong dan deburan ombak Pantai Senggigi makin keras terdengar. Kawasan Pura batu Bolong itu cukup ramai. Dominan pedagang souvenir, makann juga minuman yang siap di datangi Anda saat lapar dan haus asal.

NTB Dirikan Pos Pengamanan Wisata

Dinas Kebudayaan juga Pariwisata Nusa Tenggara Barat season tersebut bakal membangun sejumlah pos pengamanan liburan pada Pantai Kuta-Selong Belanak, Kabupaten Lombok Tengah ialah antisipasi tindak kriminal yang kerap telah tersaji pada kawasan tersebut.

“Ini bakal anda bangun di sejumlah titik di kawasan wisata Pantai Kuta juga Selong Blanak,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan serta Pariwisata NTB Moh Faozal dalam Mataram, Jumat (24/7/2015).

Kepada dia, pos pengamanan itu terbuat dari kontainer yang akan dibuat seindah mungkin. Nantinya, dalam pos pengamanan ini ditempatkan aparat kepolisian juga personel TNI, dibantu sejumlah gugusan seluruh kalangan yang tergabung di anggota pengamanan pantai.

“Jadi selain pos pengamanan, kamu begitu juga akan mencurahkan kendaraan operasional berupa sepeda motor untuk melakukan pemantauan di titik destinasi berlibur di daerah tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendirian pos pengamanan tamasya dan penempatan personel keamanan khususnya dari TNI, adalah supaya mampu memberikan jaminan keamanan untuk wisatawan yang berkunjungan menuju destinasi berwisata tersebut.

Diakui Faozal, dalam sejumlah titik destinasi liburan khususnya di Kabupaten Lombok Tengah perheletan kriminalitas selalu berulang telah tersaji. Untuk tersebut, dengan adanya pos pengamanan itu diinginkan cara kriminalitas mampu diatasi.

Selain pada Kabupaten Pulau Lombok Tengah, Disbudpar NTB dengan membangun segala pos pengamanan dalam destinasi bertamasya, semacam pos pantau pengamanan pada Pantai Senggigi, Pantai Sekotong, lokasi pemandian dengan bertamasya alam Suranadi, Kabupaten Lombok Barat.

Lainnya, Tanjung Karang Kota Mataram, air terjun Sindang Gile, tiga Pulau gili (Trawangan, Air, Meno), Senaru, Bangsal Kabupaten Pulau Lombok Utara.

Dalam Kabupaten Pulau Lombok Timur pada kawasan berwisata Pantai Pink, serta Daya pikir Kokok. Selanjutnya pada Kabupaten Sumbawa, Dompu, juga Kabupaten Bima juga Kota Bima. “Pendirian pos ini penting untuk terciptanya keamanan, ketertiban serta kelancaran pada daerah wisata,” katanya.